Tuesday, August 11, 2009

Arab dan Muslimin Hendaknya Mempertahankan Persatuan dan Kesatuan Mereka



Syaikh Yusuf Qardhawi: Hendaknya Bangsa Arab khususnya dan Kaum muslimin umumnya mengambil pelajaran dari kekalahan mereka di saat melawan Israel pada tahun 1967 dengan mempertahankan persatuan dan kesatuan mereka.

Iqna merilis dari IINA, bahwa ketua Persatuan Ulama Dunia Islam, Syeikh Yusuf Qardhawi mengatakan, hal itu dan menambahkan, bahwa kaum muslimin dengan persatuan dapat mengalahkan musuh mereka Zionisme Israel sehingga terhindar dari tindakan keji dan agresi mereka terhadap rakyat Palestina.

Qardhawi juga mengatakan, bahwa sebagian orang menganggap kekalahan bangsa Arab dan kaum muslimin saat itu dengan Israel adalah pada peperangan 6 hari, namun menurutnya lebih tepat kalau dikatakan enam jam. sebab yang menyebabkan kekalahan saat itu adalah kosongnya Medan pertempuran dari pasukan Mesir pada jam-jam pertama dimulainya peperanganj.
Ulama terkenal asli Mesir yang saat ini berdomisili di Qatar juga mengkritik pendapat sebagian orang yang menganggap kekalahan itu sebagai kekalahan kecil dan sebagai taktik mundur mereka. sebab menurutnya ini adalah kekalahan besar yang akibatnya dirasakan hingga hari ini. Beliau juga memprotes keras hubungan yang dijalin oleh sebagian negara Arab pasca perang 6 hari tersebut dan menganggap sebagian akibat dari kesalahan besar dengan menganggap legal keberadaan Israel di tanah pendudukan.

Qardhawi: Quthb Bertanggung Jawab atas Berkembangnya Islam Radikal


KAIRO--Ketua persatuan ulama Muslim internasional, Syekh Yusuf al-Qardhawi, menyatakan pemikiran takfir (pengkafiran pada muslim lain) dalam kitab-kitab Sayyid Quthb sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang dianut mayoritas umat Islam di dunia. Pemikiran ini, tambah Qardhawi, juga tidak mencerminkan pemikiran gerakan al-Ikhwan al-Muslimun, karena pemikiran takfir sama sekali tidak selaras dengan pemikiran Ikhwan al-Muslimin.

Pernyataan Qardhawi ini disampaikan dalam dialog dengan Dr Dhia Rishwan, peneliti gerakan Islam terkemuka asal Mesir, dalam program acara televisi "Manabir wa Madafi" (Mimbar dan Debat) yang disiarkan oleh kanal al-Fara'in Mesir pada Jumat (7/8), sebagaimana dilansir IslamOnline.net. Dari Moderat ke KonservatifMenurut Qardhawi, Sayyid Quthb bergabung dan aktif di organisasi al-Ikhwan al-Muslimun sejak awal tahun 50-an atas dasar ketertarikan dan kekagumanya pada Ikhwan. Pada mulanya, Quthb berpemikiran moderat dan selaras dengan Ikhwan, namun lama kelamaan, Quthb berubah menjadi lebih konserfatif. Perubahan ini terjadi pada akhir-akhir masa hidupnya, khususnya dalam kitab tafsir Fi Dzilal al-Qur'an (Dalam Naungan Alquran) dan kitab Ma'alim fi at-Thariq (Rambu-Rambu Jalan).

Perubahan ini juga sangat jelas ketika kita bandingkan Dzilal cetakan pertama dan cetekan keduanya, pada cetakan kedua lah mulai muncul pemikiran hakimiyah (masyarakat hukum) dan jahilyah (masyarakat jahiliyah."Ahlussunnah tidak pernah condong kepada takfir, tidak sebagaimana yang sering dilakukan oleh sekte Khawarij," jelas Qardhawi.Pemikiran takfir tersebut, lanjut Qardhawi, berkembang ketika ia mendekam di penjara. Kondisi ini cukup memengaruhi pemikiranya. Quthb menganggap pemerintah yang ada sebagai komunis dan jauh dari agama.Meski demikian, jika saja Sayyid Quthb saat itu tidak digantung (pada 29 Agustus 1966) dan diberi kesempatan untuk hidup normal (tidak dalam tekanan politik) dan berbaur dengan masyarakat, kemungkinan pemikiran Quthb akan berubah dan kembali lagi kepada pemikiran moderat.Quthb dan Pendidikan IkhwanMenurut Qardhawi, Sayyid Quthb merupakan salah seorang yang sangat mengagumi sosok Imam Hasan al-Banna, pendiri Ikhwan.

Atas ketertarikan ini, Quthb pun menulis buku berjudul Hasan al-Banna wa 'Abqariyyah al-Banna (Hasan al-Banna dan Kejeniusan Seorang Pendiri).Meski demikian, pada perjalanan selanjutnya, masih menurut Qardhawi, Quthb lebih dipengaruhi oleh pemikiran Abul A'la al-Mawdudi, tokoh Islam sezamannya dari Pakistan. Namun menurut Qardhawi pemikiran takfir dan tajhil (menganggap masyarakat Islam saat ini adalah jahiliyyah) sangat berbeda dengan pemikiran Mawdudi sendiri."Pemikiran Quthb lebih kepada pencampuran antara Ikhwan, Salafi, dan Jihadi," jelas Qadhawi."Sayyid Quthb adalah sastrawan, pemikir, cendikiawan, penafsir, dan tokoh Islam terbesar pada masanya," terang Qardhawi. Namun, tambah Qardhawi, Quthb adalah orang yang paling bertanggung jawab atas berkembangnya aliran pemikiran radikal yang sekarang marak di kalangan sebagian umat Islam. iol/taq (Republika)