Saleh yang celaka (Dendi Irfan – Republika)
Dalam suatu hadis qudsi dikisahkan ,ketika Allah SWT memerintahkan kepada malaikat untuk mengazab suatu kaum ,malaikat berkata ,” Ya Allah, dinegeri itu ada seorang hamba yang selalu beribadah dan orang saleh (rajulun ‘abidun sha-lih).” Tapi kata Allah ,”Mulailah azabnya dari dia.”
Mengapa azab dimulai justru dari orang saleh itu ? Allah SWT menjelaskan ,karena orang tersebut tidak pernah memerah (marah wajahnya), tidak pernah marah karena Allah SWT. Melihat kemungkaran dan kezaliman ,dia hanya berzikir saja.
Jelas sekali Allah SWT tak menyukai orang-orang yang saleh untuk dirinya sendiri, tanpa peduli kondisi sekelilingnya, Allah SWT lebih menyukai orang-orang saleh ,lalu ia juga mengajak orang lain untuk menjadi saleh. Ada amar ma’ruf nahi munkar didalamnya. Ia juga dinilai saleh karena bermanfaat untuk orang lain.
Dalam suatu hadisnya, Nabi SAW menyatakan sebaik-baik mukmin adalah yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya. Nabi SAW juga memerintahkan ketika menemukan kemunkaran ,kita wajib mencegahnya, baik dengan teguran, tindakan ,ataupun hati, dan ini selemah-lemahnya iman.
Begitu pula dalam perintah berzakat, infak, dan sedekah; menyantuni anak yatim, berbakti kepada orang tua, pergaulan dengan istri dan suami dan lainnya. Semua itu mempertegas kesalehan tidak untuk diri sendiri, tapi akan lebih bermakna jika ada interaksi kebaikan dengan orang lain.
Ada beberapa kasus dimana Nabi SAW pernah menegur sahabat-sahabatnya untuk tidak memikirkan kesalehan diri sendiri. Nabi SAW misalnya pernah menegur sahabat yang selalu shalat malam namun meninggalkan hak istrinya.
Supaya terhindar dari hal seperti itu, dan dapat masuk surgaNa , maka seorang muslim harus melakukakan pekerjaan ahli surga serta mengajak orang lain turut serta. Dengan begitu ,kita akan terus bergerak melakukan kebaikan yang insya Allah bisa menutup keburukan kita.
Ketika kita hanya memikirkan diri sendiri dan berdiam diri dengan membiarkan keburukan disekitar kita , maka tanpa sadar kita pun telah menyiapkan kebaikan kita tertutupi oleh keburukan. Bila demikian, aka ada konsekuensi sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW dalam hadis qudsinya tadi , yakni berupa azab Allah SWT yang bakal menimpa manusia manakala membiarkan keburukan dan kejahatan merajalela.